Kamis, 07 Juli 2011

Padang, 281010.


Shalat ashar di masjid biasa, masjid dekat rumah. Seperti biasa pula banyak anak-anak yang akan mengaji juga orang-orang tua, orang-orang-orang lanjut usia yang biasa ke masjid tersebut. Selaesai shalat di masjid biasa, dengan keadaan biasa, saat melihat seorang ibu kira-kira berumur  50 thn dgn ditutupi make up, jarang sekali aku bertemu ibu ini dimasjid, aku menoleh, nenek yang ramah seperti biasa sedang berdoa sambil menangis, “mungkinkah beliau memikirrkan kakek pemilik rumah saya yang baru saja kemarin meninggal” (ajal begitu dekat, maut ta dapat di tolak, mau muda atau tua, kita harus sadar allah SWT telah menetapkan kematian kita dalam keadaan siap atau tidak. Saya sempat terfikir, nanti di alam kubur akan diapain ya ? apakah hal-hal yang saya perbuat akan menolong saya meringankan siksa kubur saya atau malah memperberat siksa kubur saya nanti?)

kembali ke awal. 
Saya jadi berpikir, betapa menjadi tua itu menakutkan. Keriput-keriput itu, entah kenapa saya menjadi ketakutan jk memikirkan hal itu. Huff, saya ga bs membayangkan kalau nanti saya juga akan tua dan keriput. Apakah kamu sudah membayangkan bagaimana kamu tua nanti ? apakah penuh dengan kebahagian atau setres belaka? Apakah organ-organ tubuhmu masih bisa diajak kompromi atau sudah tidak bisa? Apakah orang-orang yang kamu sayang ada didekatmu saat kamu tua? apakah saat tua nanti, kita adalah para orang tua aka lanjut usia yang bahagia sehat damai atau sebaliknya?
apakah umur mu bisa sampai tua ataukah dimatikan sebelum itu ?
aku menoleh kearah yang berlawanan, anak-anak. Mereka berlari kesana kemari, tertawa, mungkin belum ada masalah-masalah rumit yang harus di fikirkan. Enak ya masa kecil itu ? Tapi ada yang aneh, janggal, atau lucu. Ada beberapa anak laki-laki dan perempuan yang saling mengintip, hijab antara perempuan dan laki-laki pun dibuka-buka... yaa seperti itulah, susah dijelaskan tapi inikah yang nama nya anak lg ‘puber’? masa anak SD udah suka-sukaan ? umm,, tapi kalau diinget pas saya lg SD juga ky gitu lah.... saling ‘ceng-cengan’, malah pas saya kelas 4 SD ada temen saya yg udah pacaran.

Hmmm,, andai aku boleh jadi anak kecil lagi.... ga pengen rasa nya pas SD udah main suka-sukaan. Kalau boleh SD lg,, aku ingin bisa menikmati dengan se bahagi-bahagianya, senikmat-nikmatnya. Saat liat anak SD yang lg ‘puber-puber’ itu lah (ckck, blok perkembangan anak saya gmn sih ? percuma aja saya punya ilmu kesehatan anak nelson.ckck. knp bs ga tau umur berapa sampai umur berapa seorag anak mengalami puber-puber itu. Tapi kalau saya liat terkadang teori ga pernah sesuai bgd sama kenyataan), pengen deh bilang, “dek dek, janganlah kamu ky gitu dulu, nanti ajalah pas SmP sMa itu,, {tapi kalau dari pengalaman saya, andai pas jaman ini ga kepikiran ky gitu juga, andai bisa lbh nikmatin masa remaja, punya banyak temen, ikut kegiatan-kegiatan, yaa yg hanya bisa dilakukan pas remaja deh... ikut lomba-lomba, nambah banyakin kemampuan, keterampilan, teman, pengetahuan, pengalaman,,,,,,,,,,,,,kaya kabur cabut madol? Ikut ajang kreativitas yg memang rata-rata dimulai pas jaman remaja ini ni! Slek sama guru? Blajar dari guru ala asgur aka asisten guru! Masuk ruang BP atau diapanggil ke ruang KepSEk? Cari link untuk kedepannnya! PaCARan ????? (setelah dipikir-pikir ini pengalaman jg, biar pas tua ga nyesel-nyesel amad...tapi menurut kamu????) ikut kegiatan-kegiatan agar kita bisa dewasa kedepannya agar kita bisa ngadepin sgala hal dgn baik!}.
                Kembali lagi ke awal.
                Yahh,, intinya pengen deh pas jaman SD, bisa bener-benr nikmatin masa kecil kita, berharap ga ada ngerasain suka-sukaan (cintamonyetcintamonyet getoohhh) tapi kalo diinget masa kecil saya cukup bahagia dan bermakna walau terkadang ngerasa kurang kasih sayang orang tua karna ayah ibu sibukkk T.T tapi aku sekarang bahagia kok, aku dulu selalu diajak main adik yg cowo buad main bola, main layang-layangan, pulang pergi sekolah bareng teman sambil cerita film kartun, terus tetap tidak lupa les-les n tahfidz (bersyukur bgd buad yg ini karna ‘paksaan’ ayah ibu jadi nya sekarang bisa bangga pas kecil udah punya hafalan qur’an lebih dari 3 juz, terimakasih ayah ibu^^)
Oia balik lagi ke awal .... sebenernya pengen deh bilang ke adek-adek itu,, ‘dek dek,, nikmatilah masa kecilmu janganlah tertarik2 dulu sama cowocowo itu...’. hmm.... knp ya sudah dari kecil pun, kebanyakan orang lebih tertarik pada lawan jenis nya dari pada yang sejenis? Apa emang udah takdir na kaya gitu ?? dulu, pas SmP, seorang guru perempuan bilang “ibu berharap kalian(cewecewe seangkatan) kalau ada apa-apa lebih memilih cerita ke ibu daripada ke yang laki-laki, karna seperti sebuah magnet kutub utara lebih suka mendekat ke kutub selatan daripada ke kutub utara juga”. Kenapa ya seperti itu ? ada yang bisa kasih masukan ??????????????

Minggu, 03 Juli 2011


AKHWAT,,,
Mengapa  kamu begitu sibuk?

Ya. Begitulah Akhwat yang aku kenal…

Akhwat dengan seabrek agenda dakwahnya…

Akhwat dengan setumpuk amanahnya…
Akhwat yang waktu begitu sempit dengan rapat-rapatnya..

Akhwat,,, mengapa kamu begitu sibuk?
Sampai untuk berada disisi temanmu rasanya begitu sedikit…

Tak perlu lama-lama mendengarkan curhatku atau memberikan nasihat yang dapat membuang waktumu yang bias kamu manfaatkan untuk mengerjakan tugas amanahmu  atau menghabiskan waktu kecilmu untuk istirahat diantara agenda-agenda dakwah mu…

aku tak menentut sebanyak itu…

aku mengerti…

yang kubutuhkan hanya uluran kasih sayangmu atau sodoran bahu mu untuk memberikan kekuatan disaat aku rapuh atau lelah sekali….

Kan sudah aku doakan kamu agar kamu kuat dijalan dakwah ini, itu katanya.
Yang kubutuhkan bukan hanya doa mu tapi keberadaanmu.

Semua orang kan punya masalah, ga kamu aja. Begitu katanya.
Ya aku tahu mungkin masalahku tak sebanding dengan masalah dakwah yang harus kamu selesaikan. Sungguh masalah sepele mungkin.
Tapi yang kuinginkan bukan solusi hebatmu dalam menyelasaikan segala hal pelik, yang kuinginkan kamu mendengar kisahku sehingga aku merasa aku punya seorang teman, sahabat seperjuangan sehingga aku bisa tetap kuat berjalan dijalan yang sulit dan tak banyak pengikutnya ini…

Saat kukatakan aku lelah. Kamu katakan kamu  lebih lelah lagi. Apalah aku ini, tak sehebat akhwat sepertimu yang dibutuhkan dimana-mana. Tapi bukan itu, aku hanya ingin kamu menyalurkan kekutan semangatmu atau sedikit perhatiaan yang biasa kamu berikan jika kamu sedang berdakwak ke banyak orang. Hanya itu. Bukan untuk mengetahui betapa sibukmu karna aku sudah sangat sadar diri bahwa kamu sibuk akhwat!

Kamu sadar dong, kamu juga akwat katanya.
Ya aku akhat dan mungkin aku juga telah melakukan hal tersebut pada sahabat-sahabtku. Betapa memalukannya aku. Karna saat kusadari aku sering ta bisa berada disamping sahabatku dan akhirnya mereka pergi. Aku barulah merasakan kehilangan mereka dan menyadari betapa mereka begitu berharga. Karna kini aku menysal. Aku memalukan ya? 

Kamis, 02 Juni 2011

Kumohon. Aku tak ingin melecehkan aqidahku atau meremehkan keislamanku hanya karna psahabatan ini. Mengertilah sobat! Kumohon mengertilah...

Apa itu persahabatan? Mengertikah kamu kawan, apa itu persahabatan?

Mengertikah kamu tentang persahabatan berbeda gender?

Aku sempat merasa itu hal menarik. Tapi pada akhirnya aku merasa itu hal yang tidak mungkin. Karna pada akhirnya saat aku mempunyai seorang sahabat cowok dan aku menyukainya lebih dari sekedar menyukai sebagai teman. Tapi saat itu sahabatku pun ya pacar. Sungguh aku merasa bodoh. Tapi cinta (itu yang kusebut dulu. Yahh saat ini ku sadari mungkin itu hanyalah cinta monyet. HahaJ) ternyata memang telah hadir dipersahabatan kami. Setelah beberapa hari aku merasa bodoh, sahabatku putus dengan pacarnya dan aku menjadi orang pertama yang ingin dia beritahu. Tapi mungkin sudah terlambat karna aku sudah mencoba menyukai orang lain. Tapi bermula dari aku yang telah menyukai orang lain itulah, aku malah akhirnya pacaran dengan sahabatku. Satu tahun lebih kami bersama akhirnya berakhir dan sampai sekarang kami menjadi seperti orang yang tidak saling kenal. Padahal kami telah bersama selama tiga tahun. Saling mendukung dan memberikan semangat. Saling mengingatkan. Berdiskusi. Meminta saran. Saling mengajari pelajaran yang tak mengerti. Tapi tertawa dan marah bersama. Tapi setelah putus, itu semua seperti hanya sebuah mimpi kalau kami pernah kenal apalagi pernah dekat.

Oleh karna itu, aku merasa persahabatan berbeda gender adalah hal yang ga mungkin. Pasti akan muncul cinta didalamnya.

Sampai pada suatu saat, aku disatukan dengan sahabat-sahabatku sekarang.
Sejak itulah aku merasa persahabatan beda gender adalah mungkin.
Entahlah sebenarnya kami ini bisa dikatakan sahabat atau apa. Karna dalam membina hubungan persahabatan kami adalah dengan saling ‘ceng-cengan’. Anggap saja inisialnya wy n za (cewe), ndy n jul (cowo). Aku, za, ndy adalah teman satu SD. Lalu saat SMP aku, wy n ndy satu SMP IABS sementara za n jul berada di satu SMP yang sama yaitu CHV. Saat SMA aku n za masuk SMAN X, jul n ndy di SMA DS n wy di SMA PS. Ribet kan? Tapi intinya saat SMP cowo cewe pas di SMA cewe dengan cewe, yang cowo dengan yang cowo. SMA PS dan DS sangat dekat sehingga wy sering berangkat sekolah bareng ndy. Sehingga kami bisa dekat. Tapi saat berteman lagi, aku merasa persahabatan beda gender ini tak apa. Kenapa ya? Entahlah, tapi memang saya rasa, suka saya pada mereka tak akan pernah lebih, hanya suka sebagai teman. Tapi memang persahabatan kami sepertinya hanya diisi ceng-cengan diantara kami. Aku bermula mengetahui nya dari teman sekelasku yang satu tempat les dengan siswa di SMA DS. Sungguh ku sadari sepertinya ceng-cengan itu sangat parah. Sampai pas kuliah pun masi ada anak SMA DS kalau kenalan dengan anak SMA ku pasti menanyakan kenal ma sa(aku) n za ga? Sampai ada anak DS yang mau ‘pedekate’ sama anak SMA ku dengan bawa-bawa nama aku padahal aku ga kenal... ya ammpuunn - -“. Entahlah separah apa mereka saling ngecengin. Saat naik ke kelas tiga mereka masuk ke tempat les yang sama denganku dan za. Jadilah kami semakin dekat. Di kelas tiga ini, kami sebenarnya sudah mempunyai pacar masing-masing. Tapi ‘ceng-cengan’ diantara kami dengan kami tetap berlanjut.

Masuk kuliah, aku dan za kuliah di luar kota. Sementara mereka kuliah masih di jabodetabek. Wy n zul pun berada di universitas yang sama.  Entahlah keadaan mereka saat kuliah masih sedekat apa tapi wy, ndy n jul sepertinya masih sering bersama. Aku sadari hal itu  saat aku berulang tahun, mereka bertiga memberikan aku surprise. Malah semakin kesini sepertinya mereka semakin dekat sepertinya sampai rasanya setiap kumpul, aku tak pernah bisa nyambung diantara mereka.

Ya. Persahabatan beda gender ini mulai merasuk ke fikirku dan merasa sungguh hal ini tak mungkin. Berawal dari libur semester kemarin aku pulang kerumah, wy, ndy, jul ngajak main dari jauh-jauh hari malah sebulan sebelum kepulanganku ke jakarta. Aku sungguh menantikannya. Sungguh. Tapi saat sampai dirumah. Benar-benar berat aku untuk bertemu mereka. Dan alhamdulillah aku tak perlu banyak alasan untuk tidak menemui mereka lantaran jadwal liburku bentrok dengan jadwal semester pendek mereka... alhasil liburan yang kami rencanakan bersama tak berhasil dan aku kembali ke luar kota tanpa bertemu mereka. Aku sungguh menyesal tak bertemu mereka sungguh. Tapi saat pulang kemarin entak kenapa berat sekali aku bertemu mereka. Sempat hari-hari sebelum aku kembali keluar kota, aku bertemu za (karna rumahku n za sangat dekat). Saat itu aku beralasan  dengan keadaanku yang sekarang (‘akhwat’) tak mungkin aku bertemu mereka dan mungkin aku juga takut sedikit terpengaruh oleh mereka.

Ya saat kuliah aku berubah menjadi lebih baik... aku benar-benar ingin menerapkan kaidah kaidah keislaman dihidupku. Saat hari itu mereka memberikan aku surprise karna ulang tahun, aturan keislamanku luntur. Kusadari hal itu. Aku takut. Entahlah aku jadi takut terlalu dekat dengan mereka. Mungkin hal itulah yang membuat saat liburan setelah itu, aku tak ingin bertemu mereka... mungkin karna hal-hal yang telah serius ku dalami sehingga aku takut, takut jadi jauh sama Allah. Liburan sekarang, dengan agak berat hati aku bertemu mereka karna wy,sahabat dekatku, berulang tahun jadi aku ingin memberikan mereka surprise sekalian permintaan maaf gara-gara udah buat mereka marah pas liburan kemaren karna ga bisa ketemu aku. Tapi karna aku nya yang berat, aku telat 2 jam sampai tempat janjian. Maaf. Maaf. Tapi saat ngumpul berempat, aku sungguh merasa ga nyambung. Terlebih aku merasa sangat sangat tidak nyaman bersama mereka. Entahlah. Aku malu, akhwat dikelilingi cowo cowo. Sungguh malu. Buat apa jilbab lebarku tapi aku masih ga jaga diri?

Hari ini kami janjian akan ke taman matahari bersama. Awalnya seperti biasa aku sangat sangat menantikannya. Tapi semakin dekat ke hari H aku semakin resah. Akhirnya karna tak ada kabar dariku, kami memutuskan untuk ke kota tua dengan motor. Aku tersentak. Kemarin sudah kubisikkan kepada wy saat wy menyuruh jul mengantarku ketempat yang sangat sangat dekat lalu aku bilang kalau aku tak ingin boncengan motor dengan cowo. Tapi hari ini sungguh membuat aku kecewa dan aku sadar kenapa aku tak nyaman berada diantara mereka. Aku bilang ke wy kalo aku bener2 tak bisa boncengan tapi dia menjawab dengan meremehkan dan merasa seperti aku membuat ribet,,, seakan-akan dia mengatakan ‘gara-gara itu doang kita ga jadi.ribet ah lo’ dan berkhir dengan dia marah. Sungguh hal ini membuat aku terperanjat dan kecewa. Rasanya ‘akhwat’ku sekarang diremehkan. Dia membujuk seakan gampang sekali bertaubat dari dosa. Mungkin hal itu seperti naik motor bareng cowo adalah biasa bagi lo tapi tidak bagi gue. Sungguh rasanya aku ingin menangis. Entahlah aku merasa dilecehkan. Padahal wy, ndy, jul harusnya ngerti. Waktu di SD dan SMP walau kami berbeda2 tapi kami berada di sekolah islam. Kenapa hal ini ga bisa mereka ngerti? Kenapa? Ndy mencoba membujukku. Tapi aku benerbenar kecewa. Terbuka mataku dan terjawab sudah resah hatiku. Karna mereka sama sekali ga menerapkan nilai-nilai keislaman padahal mereka mengerti. Tapi aku maklumi karna itu pilihan individu. Aku resah bersama mereka mungkin aku ngerasa aku sudah berbuat dosa dan juga mungkin karna telah jadi kebiasaanku dikampus tidak terlalu sering berkumpul dan harus sumpek-sumpek ngobrol dekatan dengan cowo. Sehingga aku merasa tak enak dekat mereka. Aku merasa aku munafik. Hanya dikampus saja aku seperti itu tapi giliran balik ke rumah, nilai-nilai islamku tak ada, munafik sekali aku. Dan yang paling membuat aku risih dengan mereka lantaran ereka terlalu berorientasi terhadap cinta. Cinta cinta cinta.  Baru putus sama pacar aja, rewel minta carikan pacar lagi. Aku mencoba memberikan solusi agar banyaknya waktu kosong temanku dipakai untuk kegiatan-kegiatan positif sehingga tidak terlalu terikat dengan cinta dan selalu terpaut dengan pacaran. Karna kusadari saat aku pacaran mungkin karna waktuku lapang tapi saat kuliah dengan kegiatan seabrek tak pernah terfikir tentang cinta apalgi pacaran. Aku tidak suka. Sungguh tak suka. Kenapa terus berorientasi terhadap cinta? Menjadikan cinta sebagai dewa. Seakan cinta adalah segalanya. Padalal cinta bukan segalanya tapi segalanya butuh cinta. Mungkin itu yang membuat aku resah. Apalagi setiap kami berempat kumpul bersama, pasti ada saja yang dilakukan yang menurutku melanggar syariat islam. Dan aku terpengaruh. Aku tahu. Aku tak pantas. Sama sekali tak pantas mengatakan ini. Tapi karna aku tahu, aku terkadang gampang terpengaruh teman dekat jadi aku takut. Takut terpengaruh hal-hal yang tak positif. Saat aku bersama mereka, aku berusaha untuk tak terwarnai tapi aku bisa mewarnai mereka. Tapi sepertinya nasihatku untuk mereka hanya sekedar angin lalu untuk mereka. Dan aku sungguh merasa, mereka sangat kuat untuk terus mewarnaiku. Dari hal hal kecil yang mungkin mereka tak sadar tapi itu sungguh resah besar didiriku.

Maaf maaf maaf. Tak henti hentinya aku ingin minta maaf kepadamu wy, ndy, jul... karna terlalu banyak salahku padamu semua. Tapi ku mohon mengertilah dan hargailah aku yang seperti ini.

Aku tahu mungkin ini semua salahku karna aku yang berubah. Tapi aku tak ingin menyalahkan diriku atau jalan yang telah kupilih. Karna aku lebih nyaman tenang dan bahagia seperti ini.

Aku mohon maaf. Sungguh beribu maaf.

Aku mungkin benarbenar tak sanggup lagi menjalani persahabatan seperti ini.

Senin, 30 Mei 2011

di penghujung waktu di penghujung sesak

Ya Allah...
Aku hanya berserah diri kepadamu...
Ya Allah kuatkan aku...
Sungguh rasanya aku tak sanggup. Sungguh tak sanggup.
Dimataku Cuma ada kebohongan, penghianatan, kehancuran.
Aku tak bisa percaya siapapun lagi.
Kenapa semua orang tak ada yang memberi tahuku?
Kenapa semua orang menutupinya dariku?
Aku anak! Bukankah aku berhak tau? Aku bagian dari keluarga ini?
Ibu,,, berbagilah... apapun yang kau rasakan.... sungguh berbagilah.... walau mungkin akhirnya aku hanya akan menemanimu menangis... ibu berbagilah. Berbagi. Ku mohon. Aku benar-benar ingin mengurangi bebanmu walau sedikit.
 Ayah,,, kenapa? Kenapa tega melakuakan ini? Ayah kenapa? Ada seribu pertanyaan dibenakku ayah. Kenapa? Kenapa? Dimataku, engkau telah menghianati keluarga ini. Menghianati ibu. Menghianati keluarag. Menghianati aku sebagai anakmu! Apakah keluarga ini tidak cukup untuk membuatmu bahagia? Ayah ayah... kenapa?  Dua orang yang selalu kudamba dan dua orang tersebutlah yang berbohong kepadaku,  berkhianat kepadaku. Kenapa? Apa semua laki-laki di dunia ini sama saja?
Adik,,, apakah kamu tahu yang terjadi di kelaurga kita? Apakah kamu merasakan adikku? Apakah kamu tidak terfikirkan apa yang akan terjadi pada kita nanti? Apakah kamu sudah puas bisa memilik apa saja yang kamu inginkan? Sementara sebagai keluarga kita ak mendapat apa-apa? Adikku, aku akan selalu berusaha untukmu. Adikku.... adik-adikku...
Ya allah, aku tak mengerti.
Ya allah apa itu keluarga?
Ya allah sungguh aku tak mengerti sama sekali.
Apa itu pernikahan. Apa itu membangun sebuah keluarga. Apa itu talak. Apa itu perceraian. Apa itu nikah tanpa persetujuan. Aku tak mengerti. Sungguh aku tak mengerti. Kenapa dalam islam boleh seperti itu? Kenapa dalam islam boleh seperti ini? Aku tak mengerti. Tak mengerti.
Tapi, kumohon jangan biarkan aku mengerti karna keadaan ini.
Keadaan ini sungguh membuat hancur diriku.
Ayah ibu, tahukah? Dengan alasan agar tidak ingin menganggu konsentrasi belajarku. Ini semua malah membaniku. Tapi, bukan aku namanya kalau terus menghadapi ini. Aya ibu, aku sering lari dari masalah. Sering sekali, aku hanya lari bukan menghadapi. Tapi aku bertahap tak ingin melakuakan itu lagi ayah ibu. Tapi untuk masalah ini, biarlah aku berlari. Aku tak ingin tahu apa-apa jika kalian ingin aku pura-pura tidak tahu. Aku tak ingin tahu kenyataan pahit ini dan akan meninggalkan masalah ini. Mungkin aku yang salah. Lebih tepatnya mungkin aku tak siap. Saat aku tahu masalah ini, hari-hari liburku dirumah yang seharusnya kugunakan untuk refreshing hanya ada tangis. Setiap hari aku menangis, sampai aku sendiripun tak sanggup untuk memberhentikan tangis ini semua. Tak bisa kubayangkan aku akan jadi apa jika ada keluarga lain yang memiliki ayahku semuanya akan terbagi atau tak bisa kubayangkan akan jadi apa aku, apakah akan menjadi anak korban broken home? Dengan pemikiran yang kalut, aku hanya ingin segera balik kepadang. Hanya itu yang kuinginkan. Sampai akupun tak sadar aku harus menghadapi ujian perbaikan. Aku hanya ingin balik ke padang. Aku tak ingin berada disini. Disini Cuma menambah sesakku, menghabiskan air mataku. Menunggu. Menunggu tiga bulan mengenai kepastian talak. Aku kacau balau. Sungguh kacau. Tapi kusadari Ya allah semua malah mengena kepada amalan yaumiku. Bukannya aku semakin dekat kepadamu, aku malah semakin jauh. Aku sungguh sesali ini. Ya, setiba dipadang aku hanya ingin tersenyum. Aku tak ingin mengingat masalah apapun yang ada dirumah. Aku takut menghadapi kenyataan yang ada.  Ya, kuhabiskan waktuku bersenang-senang. Amalan yaumiku melorot jauh, aku hanya ingin pergi bersenang-senang bersama teman-teman, aku hanya ingin bahagia itulah fikirku, malah aku sampai menghabiskan waktu berjam-jam menonton film, inilah dampak terburuk kejadian ini. Yang kesukaan akan film ini membuat aku kecanduan sampai sekarang. Sungguh ku tahu, berlebih-lebiahn itu tidak baik. Tapi dalam menonton film sulit kulakukan hal itu.
Aku tak ingin meng-kambinghitam-kan masalah ini dengan amalan yaumiku yang melorot atau akademikku yang merosot. Tidak. Ini semua salahku. Aku tahu itu. Karna aku terlalu takut mengetahui kenyataan yang ada. Karna keinginanku hanya ingin bahagia. Itu yang membuat aku yang salah atas semua hal yang kini terjadi padaku. Tapi biarlah biarlah. Jika ayah ibu ingin agar semua ini tak menganggu konsentrasiku. Akan kulakukan itu. Aku akan menutup telingaku rapat-rapat walau hatiku bergejolak penuh seribu satu tanda tanya. Biarlah. Biarlah. Aku kuat. Aku kuat kan ya allah? Aku kuat. Bantu aku agar tetap kuat akan hal ini ya allah. Aku kuat. Sungguh kuat. Aku kuat. Aku tak akan menunjukkan tangis ini kepada siapapun terutama kepada ayah ibu ku... karna aku kuat.

Kamis, 07 Juli 2011

Padang, 281010.


Shalat ashar di masjid biasa, masjid dekat rumah. Seperti biasa pula banyak anak-anak yang akan mengaji juga orang-orang tua, orang-orang-orang lanjut usia yang biasa ke masjid tersebut. Selaesai shalat di masjid biasa, dengan keadaan biasa, saat melihat seorang ibu kira-kira berumur  50 thn dgn ditutupi make up, jarang sekali aku bertemu ibu ini dimasjid, aku menoleh, nenek yang ramah seperti biasa sedang berdoa sambil menangis, “mungkinkah beliau memikirrkan kakek pemilik rumah saya yang baru saja kemarin meninggal” (ajal begitu dekat, maut ta dapat di tolak, mau muda atau tua, kita harus sadar allah SWT telah menetapkan kematian kita dalam keadaan siap atau tidak. Saya sempat terfikir, nanti di alam kubur akan diapain ya ? apakah hal-hal yang saya perbuat akan menolong saya meringankan siksa kubur saya atau malah memperberat siksa kubur saya nanti?)

kembali ke awal. 
Saya jadi berpikir, betapa menjadi tua itu menakutkan. Keriput-keriput itu, entah kenapa saya menjadi ketakutan jk memikirkan hal itu. Huff, saya ga bs membayangkan kalau nanti saya juga akan tua dan keriput. Apakah kamu sudah membayangkan bagaimana kamu tua nanti ? apakah penuh dengan kebahagian atau setres belaka? Apakah organ-organ tubuhmu masih bisa diajak kompromi atau sudah tidak bisa? Apakah orang-orang yang kamu sayang ada didekatmu saat kamu tua? apakah saat tua nanti, kita adalah para orang tua aka lanjut usia yang bahagia sehat damai atau sebaliknya?
apakah umur mu bisa sampai tua ataukah dimatikan sebelum itu ?
aku menoleh kearah yang berlawanan, anak-anak. Mereka berlari kesana kemari, tertawa, mungkin belum ada masalah-masalah rumit yang harus di fikirkan. Enak ya masa kecil itu ? Tapi ada yang aneh, janggal, atau lucu. Ada beberapa anak laki-laki dan perempuan yang saling mengintip, hijab antara perempuan dan laki-laki pun dibuka-buka... yaa seperti itulah, susah dijelaskan tapi inikah yang nama nya anak lg ‘puber’? masa anak SD udah suka-sukaan ? umm,, tapi kalau diinget pas saya lg SD juga ky gitu lah.... saling ‘ceng-cengan’, malah pas saya kelas 4 SD ada temen saya yg udah pacaran.

Hmmm,, andai aku boleh jadi anak kecil lagi.... ga pengen rasa nya pas SD udah main suka-sukaan. Kalau boleh SD lg,, aku ingin bisa menikmati dengan se bahagi-bahagianya, senikmat-nikmatnya. Saat liat anak SD yang lg ‘puber-puber’ itu lah (ckck, blok perkembangan anak saya gmn sih ? percuma aja saya punya ilmu kesehatan anak nelson.ckck. knp bs ga tau umur berapa sampai umur berapa seorag anak mengalami puber-puber itu. Tapi kalau saya liat terkadang teori ga pernah sesuai bgd sama kenyataan), pengen deh bilang, “dek dek, janganlah kamu ky gitu dulu, nanti ajalah pas SmP sMa itu,, {tapi kalau dari pengalaman saya, andai pas jaman ini ga kepikiran ky gitu juga, andai bisa lbh nikmatin masa remaja, punya banyak temen, ikut kegiatan-kegiatan, yaa yg hanya bisa dilakukan pas remaja deh... ikut lomba-lomba, nambah banyakin kemampuan, keterampilan, teman, pengetahuan, pengalaman,,,,,,,,,,,,,kaya kabur cabut madol? Ikut ajang kreativitas yg memang rata-rata dimulai pas jaman remaja ini ni! Slek sama guru? Blajar dari guru ala asgur aka asisten guru! Masuk ruang BP atau diapanggil ke ruang KepSEk? Cari link untuk kedepannnya! PaCARan ????? (setelah dipikir-pikir ini pengalaman jg, biar pas tua ga nyesel-nyesel amad...tapi menurut kamu????) ikut kegiatan-kegiatan agar kita bisa dewasa kedepannya agar kita bisa ngadepin sgala hal dgn baik!}.
                Kembali lagi ke awal.
                Yahh,, intinya pengen deh pas jaman SD, bisa bener-benr nikmatin masa kecil kita, berharap ga ada ngerasain suka-sukaan (cintamonyetcintamonyet getoohhh) tapi kalo diinget masa kecil saya cukup bahagia dan bermakna walau terkadang ngerasa kurang kasih sayang orang tua karna ayah ibu sibukkk T.T tapi aku sekarang bahagia kok, aku dulu selalu diajak main adik yg cowo buad main bola, main layang-layangan, pulang pergi sekolah bareng teman sambil cerita film kartun, terus tetap tidak lupa les-les n tahfidz (bersyukur bgd buad yg ini karna ‘paksaan’ ayah ibu jadi nya sekarang bisa bangga pas kecil udah punya hafalan qur’an lebih dari 3 juz, terimakasih ayah ibu^^)
Oia balik lagi ke awal .... sebenernya pengen deh bilang ke adek-adek itu,, ‘dek dek,, nikmatilah masa kecilmu janganlah tertarik2 dulu sama cowocowo itu...’. hmm.... knp ya sudah dari kecil pun, kebanyakan orang lebih tertarik pada lawan jenis nya dari pada yang sejenis? Apa emang udah takdir na kaya gitu ?? dulu, pas SmP, seorang guru perempuan bilang “ibu berharap kalian(cewecewe seangkatan) kalau ada apa-apa lebih memilih cerita ke ibu daripada ke yang laki-laki, karna seperti sebuah magnet kutub utara lebih suka mendekat ke kutub selatan daripada ke kutub utara juga”. Kenapa ya seperti itu ? ada yang bisa kasih masukan ??????????????

Minggu, 03 Juli 2011


AKHWAT,,,
Mengapa  kamu begitu sibuk?

Ya. Begitulah Akhwat yang aku kenal…

Akhwat dengan seabrek agenda dakwahnya…

Akhwat dengan setumpuk amanahnya…
Akhwat yang waktu begitu sempit dengan rapat-rapatnya..

Akhwat,,, mengapa kamu begitu sibuk?
Sampai untuk berada disisi temanmu rasanya begitu sedikit…

Tak perlu lama-lama mendengarkan curhatku atau memberikan nasihat yang dapat membuang waktumu yang bias kamu manfaatkan untuk mengerjakan tugas amanahmu  atau menghabiskan waktu kecilmu untuk istirahat diantara agenda-agenda dakwah mu…

aku tak menentut sebanyak itu…

aku mengerti…

yang kubutuhkan hanya uluran kasih sayangmu atau sodoran bahu mu untuk memberikan kekuatan disaat aku rapuh atau lelah sekali….

Kan sudah aku doakan kamu agar kamu kuat dijalan dakwah ini, itu katanya.
Yang kubutuhkan bukan hanya doa mu tapi keberadaanmu.

Semua orang kan punya masalah, ga kamu aja. Begitu katanya.
Ya aku tahu mungkin masalahku tak sebanding dengan masalah dakwah yang harus kamu selesaikan. Sungguh masalah sepele mungkin.
Tapi yang kuinginkan bukan solusi hebatmu dalam menyelasaikan segala hal pelik, yang kuinginkan kamu mendengar kisahku sehingga aku merasa aku punya seorang teman, sahabat seperjuangan sehingga aku bisa tetap kuat berjalan dijalan yang sulit dan tak banyak pengikutnya ini…

Saat kukatakan aku lelah. Kamu katakan kamu  lebih lelah lagi. Apalah aku ini, tak sehebat akhwat sepertimu yang dibutuhkan dimana-mana. Tapi bukan itu, aku hanya ingin kamu menyalurkan kekutan semangatmu atau sedikit perhatiaan yang biasa kamu berikan jika kamu sedang berdakwak ke banyak orang. Hanya itu. Bukan untuk mengetahui betapa sibukmu karna aku sudah sangat sadar diri bahwa kamu sibuk akhwat!

Kamu sadar dong, kamu juga akwat katanya.
Ya aku akhat dan mungkin aku juga telah melakukan hal tersebut pada sahabat-sahabtku. Betapa memalukannya aku. Karna saat kusadari aku sering ta bisa berada disamping sahabatku dan akhirnya mereka pergi. Aku barulah merasakan kehilangan mereka dan menyadari betapa mereka begitu berharga. Karna kini aku menysal. Aku memalukan ya? 

Kamis, 02 Juni 2011

Kumohon. Aku tak ingin melecehkan aqidahku atau meremehkan keislamanku hanya karna psahabatan ini. Mengertilah sobat! Kumohon mengertilah...

Apa itu persahabatan? Mengertikah kamu kawan, apa itu persahabatan?

Mengertikah kamu tentang persahabatan berbeda gender?

Aku sempat merasa itu hal menarik. Tapi pada akhirnya aku merasa itu hal yang tidak mungkin. Karna pada akhirnya saat aku mempunyai seorang sahabat cowok dan aku menyukainya lebih dari sekedar menyukai sebagai teman. Tapi saat itu sahabatku pun ya pacar. Sungguh aku merasa bodoh. Tapi cinta (itu yang kusebut dulu. Yahh saat ini ku sadari mungkin itu hanyalah cinta monyet. HahaJ) ternyata memang telah hadir dipersahabatan kami. Setelah beberapa hari aku merasa bodoh, sahabatku putus dengan pacarnya dan aku menjadi orang pertama yang ingin dia beritahu. Tapi mungkin sudah terlambat karna aku sudah mencoba menyukai orang lain. Tapi bermula dari aku yang telah menyukai orang lain itulah, aku malah akhirnya pacaran dengan sahabatku. Satu tahun lebih kami bersama akhirnya berakhir dan sampai sekarang kami menjadi seperti orang yang tidak saling kenal. Padahal kami telah bersama selama tiga tahun. Saling mendukung dan memberikan semangat. Saling mengingatkan. Berdiskusi. Meminta saran. Saling mengajari pelajaran yang tak mengerti. Tapi tertawa dan marah bersama. Tapi setelah putus, itu semua seperti hanya sebuah mimpi kalau kami pernah kenal apalagi pernah dekat.

Oleh karna itu, aku merasa persahabatan berbeda gender adalah hal yang ga mungkin. Pasti akan muncul cinta didalamnya.

Sampai pada suatu saat, aku disatukan dengan sahabat-sahabatku sekarang.
Sejak itulah aku merasa persahabatan beda gender adalah mungkin.
Entahlah sebenarnya kami ini bisa dikatakan sahabat atau apa. Karna dalam membina hubungan persahabatan kami adalah dengan saling ‘ceng-cengan’. Anggap saja inisialnya wy n za (cewe), ndy n jul (cowo). Aku, za, ndy adalah teman satu SD. Lalu saat SMP aku, wy n ndy satu SMP IABS sementara za n jul berada di satu SMP yang sama yaitu CHV. Saat SMA aku n za masuk SMAN X, jul n ndy di SMA DS n wy di SMA PS. Ribet kan? Tapi intinya saat SMP cowo cewe pas di SMA cewe dengan cewe, yang cowo dengan yang cowo. SMA PS dan DS sangat dekat sehingga wy sering berangkat sekolah bareng ndy. Sehingga kami bisa dekat. Tapi saat berteman lagi, aku merasa persahabatan beda gender ini tak apa. Kenapa ya? Entahlah, tapi memang saya rasa, suka saya pada mereka tak akan pernah lebih, hanya suka sebagai teman. Tapi memang persahabatan kami sepertinya hanya diisi ceng-cengan diantara kami. Aku bermula mengetahui nya dari teman sekelasku yang satu tempat les dengan siswa di SMA DS. Sungguh ku sadari sepertinya ceng-cengan itu sangat parah. Sampai pas kuliah pun masi ada anak SMA DS kalau kenalan dengan anak SMA ku pasti menanyakan kenal ma sa(aku) n za ga? Sampai ada anak DS yang mau ‘pedekate’ sama anak SMA ku dengan bawa-bawa nama aku padahal aku ga kenal... ya ammpuunn - -“. Entahlah separah apa mereka saling ngecengin. Saat naik ke kelas tiga mereka masuk ke tempat les yang sama denganku dan za. Jadilah kami semakin dekat. Di kelas tiga ini, kami sebenarnya sudah mempunyai pacar masing-masing. Tapi ‘ceng-cengan’ diantara kami dengan kami tetap berlanjut.

Masuk kuliah, aku dan za kuliah di luar kota. Sementara mereka kuliah masih di jabodetabek. Wy n zul pun berada di universitas yang sama.  Entahlah keadaan mereka saat kuliah masih sedekat apa tapi wy, ndy n jul sepertinya masih sering bersama. Aku sadari hal itu  saat aku berulang tahun, mereka bertiga memberikan aku surprise. Malah semakin kesini sepertinya mereka semakin dekat sepertinya sampai rasanya setiap kumpul, aku tak pernah bisa nyambung diantara mereka.

Ya. Persahabatan beda gender ini mulai merasuk ke fikirku dan merasa sungguh hal ini tak mungkin. Berawal dari libur semester kemarin aku pulang kerumah, wy, ndy, jul ngajak main dari jauh-jauh hari malah sebulan sebelum kepulanganku ke jakarta. Aku sungguh menantikannya. Sungguh. Tapi saat sampai dirumah. Benar-benar berat aku untuk bertemu mereka. Dan alhamdulillah aku tak perlu banyak alasan untuk tidak menemui mereka lantaran jadwal liburku bentrok dengan jadwal semester pendek mereka... alhasil liburan yang kami rencanakan bersama tak berhasil dan aku kembali ke luar kota tanpa bertemu mereka. Aku sungguh menyesal tak bertemu mereka sungguh. Tapi saat pulang kemarin entak kenapa berat sekali aku bertemu mereka. Sempat hari-hari sebelum aku kembali keluar kota, aku bertemu za (karna rumahku n za sangat dekat). Saat itu aku beralasan  dengan keadaanku yang sekarang (‘akhwat’) tak mungkin aku bertemu mereka dan mungkin aku juga takut sedikit terpengaruh oleh mereka.

Ya saat kuliah aku berubah menjadi lebih baik... aku benar-benar ingin menerapkan kaidah kaidah keislaman dihidupku. Saat hari itu mereka memberikan aku surprise karna ulang tahun, aturan keislamanku luntur. Kusadari hal itu. Aku takut. Entahlah aku jadi takut terlalu dekat dengan mereka. Mungkin hal itulah yang membuat saat liburan setelah itu, aku tak ingin bertemu mereka... mungkin karna hal-hal yang telah serius ku dalami sehingga aku takut, takut jadi jauh sama Allah. Liburan sekarang, dengan agak berat hati aku bertemu mereka karna wy,sahabat dekatku, berulang tahun jadi aku ingin memberikan mereka surprise sekalian permintaan maaf gara-gara udah buat mereka marah pas liburan kemaren karna ga bisa ketemu aku. Tapi karna aku nya yang berat, aku telat 2 jam sampai tempat janjian. Maaf. Maaf. Tapi saat ngumpul berempat, aku sungguh merasa ga nyambung. Terlebih aku merasa sangat sangat tidak nyaman bersama mereka. Entahlah. Aku malu, akhwat dikelilingi cowo cowo. Sungguh malu. Buat apa jilbab lebarku tapi aku masih ga jaga diri?

Hari ini kami janjian akan ke taman matahari bersama. Awalnya seperti biasa aku sangat sangat menantikannya. Tapi semakin dekat ke hari H aku semakin resah. Akhirnya karna tak ada kabar dariku, kami memutuskan untuk ke kota tua dengan motor. Aku tersentak. Kemarin sudah kubisikkan kepada wy saat wy menyuruh jul mengantarku ketempat yang sangat sangat dekat lalu aku bilang kalau aku tak ingin boncengan motor dengan cowo. Tapi hari ini sungguh membuat aku kecewa dan aku sadar kenapa aku tak nyaman berada diantara mereka. Aku bilang ke wy kalo aku bener2 tak bisa boncengan tapi dia menjawab dengan meremehkan dan merasa seperti aku membuat ribet,,, seakan-akan dia mengatakan ‘gara-gara itu doang kita ga jadi.ribet ah lo’ dan berkhir dengan dia marah. Sungguh hal ini membuat aku terperanjat dan kecewa. Rasanya ‘akhwat’ku sekarang diremehkan. Dia membujuk seakan gampang sekali bertaubat dari dosa. Mungkin hal itu seperti naik motor bareng cowo adalah biasa bagi lo tapi tidak bagi gue. Sungguh rasanya aku ingin menangis. Entahlah aku merasa dilecehkan. Padahal wy, ndy, jul harusnya ngerti. Waktu di SD dan SMP walau kami berbeda2 tapi kami berada di sekolah islam. Kenapa hal ini ga bisa mereka ngerti? Kenapa? Ndy mencoba membujukku. Tapi aku benerbenar kecewa. Terbuka mataku dan terjawab sudah resah hatiku. Karna mereka sama sekali ga menerapkan nilai-nilai keislaman padahal mereka mengerti. Tapi aku maklumi karna itu pilihan individu. Aku resah bersama mereka mungkin aku ngerasa aku sudah berbuat dosa dan juga mungkin karna telah jadi kebiasaanku dikampus tidak terlalu sering berkumpul dan harus sumpek-sumpek ngobrol dekatan dengan cowo. Sehingga aku merasa tak enak dekat mereka. Aku merasa aku munafik. Hanya dikampus saja aku seperti itu tapi giliran balik ke rumah, nilai-nilai islamku tak ada, munafik sekali aku. Dan yang paling membuat aku risih dengan mereka lantaran ereka terlalu berorientasi terhadap cinta. Cinta cinta cinta.  Baru putus sama pacar aja, rewel minta carikan pacar lagi. Aku mencoba memberikan solusi agar banyaknya waktu kosong temanku dipakai untuk kegiatan-kegiatan positif sehingga tidak terlalu terikat dengan cinta dan selalu terpaut dengan pacaran. Karna kusadari saat aku pacaran mungkin karna waktuku lapang tapi saat kuliah dengan kegiatan seabrek tak pernah terfikir tentang cinta apalgi pacaran. Aku tidak suka. Sungguh tak suka. Kenapa terus berorientasi terhadap cinta? Menjadikan cinta sebagai dewa. Seakan cinta adalah segalanya. Padalal cinta bukan segalanya tapi segalanya butuh cinta. Mungkin itu yang membuat aku resah. Apalagi setiap kami berempat kumpul bersama, pasti ada saja yang dilakukan yang menurutku melanggar syariat islam. Dan aku terpengaruh. Aku tahu. Aku tak pantas. Sama sekali tak pantas mengatakan ini. Tapi karna aku tahu, aku terkadang gampang terpengaruh teman dekat jadi aku takut. Takut terpengaruh hal-hal yang tak positif. Saat aku bersama mereka, aku berusaha untuk tak terwarnai tapi aku bisa mewarnai mereka. Tapi sepertinya nasihatku untuk mereka hanya sekedar angin lalu untuk mereka. Dan aku sungguh merasa, mereka sangat kuat untuk terus mewarnaiku. Dari hal hal kecil yang mungkin mereka tak sadar tapi itu sungguh resah besar didiriku.

Maaf maaf maaf. Tak henti hentinya aku ingin minta maaf kepadamu wy, ndy, jul... karna terlalu banyak salahku padamu semua. Tapi ku mohon mengertilah dan hargailah aku yang seperti ini.

Aku tahu mungkin ini semua salahku karna aku yang berubah. Tapi aku tak ingin menyalahkan diriku atau jalan yang telah kupilih. Karna aku lebih nyaman tenang dan bahagia seperti ini.

Aku mohon maaf. Sungguh beribu maaf.

Aku mungkin benarbenar tak sanggup lagi menjalani persahabatan seperti ini.

Senin, 30 Mei 2011

di penghujung waktu di penghujung sesak

Ya Allah...
Aku hanya berserah diri kepadamu...
Ya Allah kuatkan aku...
Sungguh rasanya aku tak sanggup. Sungguh tak sanggup.
Dimataku Cuma ada kebohongan, penghianatan, kehancuran.
Aku tak bisa percaya siapapun lagi.
Kenapa semua orang tak ada yang memberi tahuku?
Kenapa semua orang menutupinya dariku?
Aku anak! Bukankah aku berhak tau? Aku bagian dari keluarga ini?
Ibu,,, berbagilah... apapun yang kau rasakan.... sungguh berbagilah.... walau mungkin akhirnya aku hanya akan menemanimu menangis... ibu berbagilah. Berbagi. Ku mohon. Aku benar-benar ingin mengurangi bebanmu walau sedikit.
 Ayah,,, kenapa? Kenapa tega melakuakan ini? Ayah kenapa? Ada seribu pertanyaan dibenakku ayah. Kenapa? Kenapa? Dimataku, engkau telah menghianati keluarga ini. Menghianati ibu. Menghianati keluarag. Menghianati aku sebagai anakmu! Apakah keluarga ini tidak cukup untuk membuatmu bahagia? Ayah ayah... kenapa?  Dua orang yang selalu kudamba dan dua orang tersebutlah yang berbohong kepadaku,  berkhianat kepadaku. Kenapa? Apa semua laki-laki di dunia ini sama saja?
Adik,,, apakah kamu tahu yang terjadi di kelaurga kita? Apakah kamu merasakan adikku? Apakah kamu tidak terfikirkan apa yang akan terjadi pada kita nanti? Apakah kamu sudah puas bisa memilik apa saja yang kamu inginkan? Sementara sebagai keluarga kita ak mendapat apa-apa? Adikku, aku akan selalu berusaha untukmu. Adikku.... adik-adikku...
Ya allah, aku tak mengerti.
Ya allah apa itu keluarga?
Ya allah sungguh aku tak mengerti sama sekali.
Apa itu pernikahan. Apa itu membangun sebuah keluarga. Apa itu talak. Apa itu perceraian. Apa itu nikah tanpa persetujuan. Aku tak mengerti. Sungguh aku tak mengerti. Kenapa dalam islam boleh seperti itu? Kenapa dalam islam boleh seperti ini? Aku tak mengerti. Tak mengerti.
Tapi, kumohon jangan biarkan aku mengerti karna keadaan ini.
Keadaan ini sungguh membuat hancur diriku.
Ayah ibu, tahukah? Dengan alasan agar tidak ingin menganggu konsentrasi belajarku. Ini semua malah membaniku. Tapi, bukan aku namanya kalau terus menghadapi ini. Aya ibu, aku sering lari dari masalah. Sering sekali, aku hanya lari bukan menghadapi. Tapi aku bertahap tak ingin melakuakan itu lagi ayah ibu. Tapi untuk masalah ini, biarlah aku berlari. Aku tak ingin tahu apa-apa jika kalian ingin aku pura-pura tidak tahu. Aku tak ingin tahu kenyataan pahit ini dan akan meninggalkan masalah ini. Mungkin aku yang salah. Lebih tepatnya mungkin aku tak siap. Saat aku tahu masalah ini, hari-hari liburku dirumah yang seharusnya kugunakan untuk refreshing hanya ada tangis. Setiap hari aku menangis, sampai aku sendiripun tak sanggup untuk memberhentikan tangis ini semua. Tak bisa kubayangkan aku akan jadi apa jika ada keluarga lain yang memiliki ayahku semuanya akan terbagi atau tak bisa kubayangkan akan jadi apa aku, apakah akan menjadi anak korban broken home? Dengan pemikiran yang kalut, aku hanya ingin segera balik kepadang. Hanya itu yang kuinginkan. Sampai akupun tak sadar aku harus menghadapi ujian perbaikan. Aku hanya ingin balik ke padang. Aku tak ingin berada disini. Disini Cuma menambah sesakku, menghabiskan air mataku. Menunggu. Menunggu tiga bulan mengenai kepastian talak. Aku kacau balau. Sungguh kacau. Tapi kusadari Ya allah semua malah mengena kepada amalan yaumiku. Bukannya aku semakin dekat kepadamu, aku malah semakin jauh. Aku sungguh sesali ini. Ya, setiba dipadang aku hanya ingin tersenyum. Aku tak ingin mengingat masalah apapun yang ada dirumah. Aku takut menghadapi kenyataan yang ada.  Ya, kuhabiskan waktuku bersenang-senang. Amalan yaumiku melorot jauh, aku hanya ingin pergi bersenang-senang bersama teman-teman, aku hanya ingin bahagia itulah fikirku, malah aku sampai menghabiskan waktu berjam-jam menonton film, inilah dampak terburuk kejadian ini. Yang kesukaan akan film ini membuat aku kecanduan sampai sekarang. Sungguh ku tahu, berlebih-lebiahn itu tidak baik. Tapi dalam menonton film sulit kulakukan hal itu.
Aku tak ingin meng-kambinghitam-kan masalah ini dengan amalan yaumiku yang melorot atau akademikku yang merosot. Tidak. Ini semua salahku. Aku tahu itu. Karna aku terlalu takut mengetahui kenyataan yang ada. Karna keinginanku hanya ingin bahagia. Itu yang membuat aku yang salah atas semua hal yang kini terjadi padaku. Tapi biarlah biarlah. Jika ayah ibu ingin agar semua ini tak menganggu konsentrasiku. Akan kulakukan itu. Aku akan menutup telingaku rapat-rapat walau hatiku bergejolak penuh seribu satu tanda tanya. Biarlah. Biarlah. Aku kuat. Aku kuat kan ya allah? Aku kuat. Bantu aku agar tetap kuat akan hal ini ya allah. Aku kuat. Sungguh kuat. Aku kuat. Aku tak akan menunjukkan tangis ini kepada siapapun terutama kepada ayah ibu ku... karna aku kuat.